 |
Disini Hadir Kembali Dalam Kesederhanaan Mencoba Meniti Langkah Suara Hati disebuah Laman
Disini Hadir Kembali Mencari sebuah Wacana Menapaki Perjuangan hidup Menggapai Mimpi dunia Maya
Disini Hadir Kembali

|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
CItanya Membangun Peradaban..!!!
Bahwa semuanya punya mimpi tentang hidup yang lebih baik, pribadi-pribadi yang lebih baik, jiwa-jiwa yang berkarakter, insan-insan yang kokoh dan teguh memegang prinsip, pemimpin-pemimpin yang jujur, yang santun, yang penuh wawasan, yang kreatif, yang inovatif.
Bahwa saat ini bangsa sedang terpuruk, kemiskinan dan sempit lapangan kerja yang menjadi masalah, eksploitasi alam yang semena-mena, kebijakan-kebijakan yang kurang diterima semua lapisan, degradasi karakter-karakter luhur yang menjadi figur ideal, luntur oleh ambisi manusia mengejar harta, tahta dan mungkin cinta... cinta dunia.
Bahwa kemudian kita mendamba sebuah perubahan, dan mulailah kita meniti langkah, mengais serpihan-serpihan sirah, menimbang-nimbang tata dan cara dan kemudian mengkristalkannya menjadi sebuah metode. Kita sedang meniti jalan menuju sebuah perubahan. Dan entah apakah kita akan menjadi orang yang menyaksikan perubahan itu atau tidak. Jalannya adalah jalan yang panjang, yang mungkin rentang waktunya melebihi usia-usia kita. Usia kita mungkin takkan cukup untuk menyaksikan sebuah perubahan yang terjadi, namun alangkah manisnya bila kita tahu bahwa kita telah menjadi, bahwa kita akan menjadi, bahwa kita adalah sebuah titik dalam garis panjang perubahan peradaban itu.
Dan disinilah kita berada, disalah satu ujung dunia, berinteraksi dengan dunia yang mungkin sebelumnya tidak pernah terimaji. Hadir tiba-tiba, terkejut tiba-tiba namun kemudian segera tersadar bahwa inilah jalan kita, jalan hidup kita. Berlarian direrumputan, memijakan kaki-kaki ini dikerikil-kerikil tajam, melangkah lamat-lamat menaiki titian-titian kayu itu. Bercanda, berbagi, bersenda gurau, mencoba membangun karakter mereka. Pembentukan karakter sejak dini adalah langkah pembentukan karakter paling baik, bukankah sudah tersuratkan bahwa "anak-anak adalah seperti selembar kain putih bahwa orangtua lah yang menjadikan mereka berwarna merah, hijau, biru ataukah ungu." Dan kita disini adalah "orangtua" mereka bukan ?. Anak-anak kecil yang berlarian menikmati masa kanak-kanaknya. Anak-anak yang begitu asyik bermain dan menggapai manfaat pelajran dari permainannya.
Adalah tauladan merupakan salah satu konsep utamanya, anak-anak meniru dan mengerjakan dari apa yang mereka dengar, lihat dan saksikan. Anak-anak mengasumsikan sesuatu menjadi benar atau salah, baik atau tidak, sesuai tempatnya atau tidak adalah dari orang-orang seperti kita, yang dekat dengan mereka, yang berinteraksi setiap saat dengan mereka. Maka konsep tauladanlah yang mesti kita usung sejak awal ketika akan membangun karakter mereka.
Banyak cara, banyak langkah yang dapat kita lakukan untuk menjadi tauladan bagi mereka. Misalnya ketika kita mengatakan buanglah sampah pada tempatnya, maka kitapun mesti mencontohkan dengan membuang sampah pada tempatnya, ketika kita meminta mereka makan dengan duduk dan rapi, maka kitapun semestinya tidak makan dan minum sambil berdiri, ketika kita meminta mereka untuk tidak menyanyikan lagu-lagu yang tidak diajarkan dikelas, maka bukankah kita juga mestinya tidak bersenandung lagu-lagu tersebut juga, setidaknya tidak disekolah.
Dengan tahu dimana posisi kita berada, apakah kita sedang disekolah atau dipesta dansa, apakah kita sedang ditaman hiburan atau lingkungan pendidikan. Seandainya kita bisa menjadi orang-orang yang bersabar, mengekang keinginan-keinginan dan tahu menempatkan sesuatu sesuai porsi dan tempatnya, mesti langkah perjuangan ini akan menjadi lebih mudah dan terarah. Bukankah sesungguhnya apabila kita memberi lebih banyak, berkorban lebih banya akan menghasilkan sesuatu yang berlebih juga.
Jadi cukuplah sudah, apakah memang disini tempatnya, apakah memang layak disini, bukankah sudah terlalu sering,menyanyi- nyanyi, menari-nari, berdansa dan berdendang. Mengapa kita tidak isi dengan sesuatu yang lebih bernuansa edukatif, kenapa kita tidak dengan lantang mengatakan tidak, kenapa hal-hal seperti itu tiba-tiba hadir begitu saja diluar skenario. Bagaimana kita hendak menjadi tauladan, bagaimana kita bisa membangun karakter mereka ketika kita juga tidak mencoba merubah, membangun karakter pribadi kita.
Suatu Saat kita harus lantang berbicara dan berkata tidak... Apapun yang terjadi..... !!!!!!!!
Posted at 11:18 am by Yoshitshune
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|