Best Viewed at 1024 x 768 Screen Resolution

                                         
(:Menu Still Under Construction :)



Image hosted by Photobucket.com

Disini Hadir Kembali
Dalam Kesederhanaan
Mencoba Meniti Langkah
Suara Hati disebuah Laman

Disini Hadir Kembali
Mencari sebuah Wacana
Menapaki Perjuangan hidup
Menggapai Mimpi dunia Maya

Disini Hadir Kembali
Image hosted by Photobucket.com
Image hosted by Photobucket.com
<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

Image hosted by Photobucket.com
   




rss feed

Ranking Berapa Anakmu?

 

SABTU INI, WALAUPUN MEMERCAYAI KENYATAAN BAHWA HATIKU TELAH MENJADI SERINGAN KAPAS, MENGAPA AKU TETAP RESAH DAN GELISAH?

 

Kabar buruk.  Ini masalah rumit.  Masalah yang telah semakin mengakar kuat menjadi budaya masykarakat Indonesia pada umumnya. Dan apakah aku, sekalipun budaya tersebut keliru, bisa mematahkannya? Setidak-tidaknya untuk diri pribadi? Aku masih berusaha untuk tetap optimis dan meringankan hatiku, betapapun susahnya.

 

Kecemasan memuncak.  Saat penerimaan rapor, orangtua dengan prestasi anak sepuluh besar diundang maju ke depan.  Sementara itu, yang lain jadi penonton dan bergumam kagum (tetapi dalam hati mungkin iri).

 

Kata beberapa alumni SMP-ku, tradisi itu sejak dulu sudah ada. Hatiku kian sakit ketika melihat para orang tua beranggapan bahwa itulah yang akan jadi tolak ukur keberhasilan putra-putri mereka.

 

Orangtua yang dipanggil maju ke depan mungkin dengan bangga akan mengatakan kepada semua orang yang dikenalnya bahwa anaknya masuk sepuluh besar.  Namun, hal sebaliknya pasti akan terjadi pada banyak orang tua yang anaknya tidak dipanggil maju ke depan.  Mereka mungkin akan malu dan menundukkan kepala setiap kali berkumpul dengan keluarga atau kenalan mereka, yang selalu saja bertanya setiap kali musim kenaikan kelasm “Ranking berapa anakmu?”.

 

Orangtua yang terobsesi dengan sepuluh besar, mungkin akan tega mempergunakan kekerasan agar anaknya lebih rajin belajar.  Pemaksaan agar nilai lebih tinggi lagi, tanpa memerhatikan perkembangan mental anak.

 

Bagaimana mungkin, pendidikan yang oleh Wapres Jusuf Kalla dikatakan jauh lebih baik dibandingkan negara lain itu malah membodohkan dan bahkan meruntuhkan potensi.  Potensi besar yang sebetulnya dapat dilejitkan lebih dari sekedar melamar pekerjaan dengan kertas sakti di tangan.

 

“ Heh, jadi anak itu yang rajin, jangan sering main bola; kamu tidak bakal bisa seperti Maradona.”

 

“Heh, jadi anak itu jangan suka nyanyi saja.  Suaramu sember, nggak bakal nyaingin Celine Dion.”

 

“ Pikiranmu jangan dipenuhi dengan cerita-cerita saja, jangan pernah baca Harry Potter, nanti nilai sekolahmu jatuh.”

 

Meski kedengarannya amat sepele, aku tetap mencoba untuk bertanya.  Itukah sebabnya Indonesia sekarang tertinggal jauh dari negara Malaysia yang kecil.  Padahal, Indonesia memiliki sumber daya alam dan manusia yang besar.  Itukah sebabnya kehidupan hampir disegala bidang di Indonesia tertinggal jauh?  Itukah sebabnyua pekerjaan hanya dianggap sebagai sarana untuk mencari uang dan bukan kehidupan selayaknya?  Itukah sebabnya di negara ini banyak guru yang justru tidak mencintai anak-anak? Itukah sebabnya para agamawan malah melanggar ajaran agama? Itukah sebabnya para pejabat melihat kedudukan sebatas ladang harta karun? Lalu bagaimana mungkin Indonesia dapat mengatasi pengaruh buruk dari negara besar seperti Jepang, Russia, dan Amerika? Jauh di luar kepentingan pribadi, aku punya mimpi : para pejabat dan seluruh anggota masyarakat dengan sepenuh kesadaran bisa meniru hal-hal yang baik saja dari pendidikan negara-negara maju.  Bukan melulu pengaruh buruk seperti film biru.

 

Mudah-mudahan, suatu saat kita semua sadar bahwa pendidikan itu benar-benar faktor terbesar yang dapat menentukan baik-buruknya masa depan Indonesia.  Setelah itu segenap masyarakat dan pemerintah dikarunia tekad bulan dan semangat baja untuk bersama-sama merevolusi hidup mereka.  Setidaknya revolusi pendidikan.

M Izza Ahsin (17 Tahun, Salatiga)


Posted at 01:16 am by Yoshitshune

dr-Dre
October 29, 2007   01:22 PM PDT
 
Pendidikan memang selalu penting dalam kemajuan...Namun tidak hanya pendidikan mengenai pengetahuan...namun mental juga harus mendapat perhatian lebih.
Emosi, mudah marah, jalan pintas, ingin instan adalah tipikal yang sering kita lihat di bangsa kita dari kalangan bawah sampai atas.
Jarang ada orang yang menghargai sebua kemajuan...Contoh sederhana mengambil dari contoh sekolah diatas, orang tua cenderung iri dengan anak yang berhasil masuk 10 besar daripada bangga anaknya berhasil memperbaiki nilai dari 5 ke 7. Ironis karena dalam dunia kerja usahalah yang memegang peranan ketimbang sekedar hafal ilmu. Hal inilah yang menyebabkan hilangnya banyak potensi bangsa. Orang yang dengan mudah meraih keberhasilan di awal hanya akan lenyap teterjang badai yang pasti akan datang cepat atau lambat dalam kehidupan.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Home Next Entry