Ranking Berapa Anakmu?
SABTU INI, WALAUPUN MEMERCAYAI KENYATAAN BAHWA HATIKU TELAH
MENJADI SERINGAN KAPAS, MENGAPA AKU TETAP RESAH DAN GELISAH?
Kabar buruk. Ini
masalah rumit. Masalah yang telah
semakin mengakar kuat menjadi budaya masykarakat Indonesia pada umumnya. Dan apakah
aku, sekalipun budaya tersebut keliru, bisa mematahkannya? Setidak-tidaknya
untuk diri pribadi? Aku masih berusaha untuk tetap optimis dan meringankan
hatiku, betapapun susahnya.
Kecemasan memuncak.
Saat penerimaan rapor, orangtua dengan prestasi anak sepuluh besar
diundang maju ke depan. Sementara itu,
yang lain jadi penonton dan bergumam kagum (tetapi dalam hati mungkin iri).
Kata beberapa alumni SMP-ku, tradisi itu sejak dulu sudah
ada. Hatiku kian sakit ketika melihat para orang tua beranggapan bahwa itulah
yang akan jadi tolak ukur keberhasilan putra-putri mereka.
Orangtua yang dipanggil maju ke depan mungkin dengan bangga
akan mengatakan kepada semua orang yang dikenalnya bahwa anaknya masuk sepuluh
besar. Namun, hal sebaliknya pasti akan
terjadi pada banyak orang tua yang anaknya tidak dipanggil maju ke depan. Mereka mungkin akan malu dan menundukkan
kepala setiap kali berkumpul dengan keluarga atau kenalan mereka, yang selalu
saja bertanya setiap kali musim kenaikan kelasm “Ranking berapa anakmu?”.
Orangtua yang terobsesi dengan sepuluh besar, mungkin akan
tega mempergunakan kekerasan agar anaknya lebih rajin belajar. Pemaksaan agar nilai lebih tinggi lagi, tanpa
memerhatikan perkembangan mental anak.
Bagaimana mungkin, pendidikan yang oleh Wapres Jusuf Kalla
dikatakan jauh lebih baik dibandingkan negara lain itu malah membodohkan dan
bahkan meruntuhkan potensi. Potensi
besar yang sebetulnya dapat dilejitkan lebih dari sekedar melamar pekerjaan
dengan kertas sakti di tangan.
“ Heh, jadi anak itu yang rajin,
jangan sering main bola; kamu tidak bakal bisa seperti Maradona.”
“Heh, jadi anak itu jangan suka
nyanyi saja. Suaramu sember, nggak bakal
nyaingin Celine Dion.”
“ Pikiranmu jangan dipenuhi
dengan cerita-cerita saja, jangan pernah baca Harry Potter, nanti nilai
sekolahmu jatuh.”
Meski kedengarannya amat sepele, aku tetap mencoba untuk
bertanya. Itukah sebabnya Indonesia
sekarang tertinggal jauh dari negara Malaysia yang kecil. Padahal,
Indonesia
memiliki sumber daya alam dan manusia yang besar. Itukah sebabnya kehidupan hampir disegala
bidang di Indonesia
tertinggal jauh? Itukah sebabnyua
pekerjaan hanya dianggap sebagai sarana untuk mencari uang dan bukan kehidupan
selayaknya? Itukah sebabnya di negara
ini banyak guru yang justru tidak mencintai anak-anak? Itukah sebabnya para
agamawan malah melanggar ajaran agama? Itukah sebabnya para pejabat melihat
kedudukan sebatas ladang harta karun? Lalu bagaimana mungkin Indonesia dapat mengatasi pengaruh buruk dari negara
besar seperti Jepang, Russia, dan Amerika? Jauh di luar
kepentingan pribadi, aku punya mimpi : para pejabat dan seluruh anggota
masyarakat dengan sepenuh kesadaran bisa meniru hal-hal yang baik saja dari
pendidikan negara-negara maju. Bukan melulu
pengaruh buruk seperti film biru.
Mudah-mudahan, suatu saat kita semua
sadar bahwa pendidikan itu benar-benar faktor terbesar yang dapat menentukan
baik-buruknya masa depan Indonesia. Setelah itu segenap masyarakat dan pemerintah
dikarunia tekad bulan dan semangat baja untuk bersama-sama merevolusi hidup
mereka. Setidaknya revolusi pendidikan.
M Izza Ahsin (17
Tahun, Salatiga)